Media tanam & pot

Kulit kayu, arang, lumut, dan pot tempat akar menggantung.

Bagian ini membahas bahan yang mengisi pot: kapan kepingan kulit kayu berhenti bekerja, apa gunanya arang, dan kapan lumut menjadi jebakan. Semua ditulis dari pot yang benar-benar saya pakai di teras, bukan dari panduan umum.

Semua anggrek yang saya pelihara di teras Malang ini tumbuh di media yang sama sekali bukan tanah. Ini hal pertama yang harus dipahami sebelum membeli apa pun, karena kesalahan pemula yang paling sering saya lihat adalah menanam anggrek dalam tanah pot biasa lalu heran kenapa akarnya membusuk dalam dua minggu. Akar anggrek bukan akar tanaman hias biasa; ia dirancang untuk menggantung di udara, menempel di kulit pohon, dan mengering sepenuhnya di antara dua hujan.

Kulit kayu adalah media yang paling aman untuk pemula, tetapi hanya jika ukurannya sesuai. Kepingan yang terlalu kecil memadat setelah beberapa bulan, menahan air di celah-celahnya, dan membuat akar bagian dalam tetap lembap. Saya memakai kepingan berukuran dua sampai tiga sentimeter, diayak dulu untuk membuang serbuknya, dan saya menggantinya setiap delapan belas bulan. Setelah delapan belas bulan, kepingan itu hancur menjadi serpihan halus dan berhenti bekerja sebagai media; saat itulah kebanyakan orang mengeluh tanamannya tiba-tiba membusuk, padahal masalahnya sudah mulai setahun sebelumnya.

Arang tidak memberi nutrisi apa pun. Fungsinya menjaga kelembapan berlebih, menyerap sisa pupuk, dan membuat media tidak cepat padat. Saya menambah sekitar satu bagian arang untuk empat bagian kulit kayu. Lumut sphagnum adalah bahan yang paling sering disalahgunakan: ia bagus untuk anakan dan tanaman yang belum berakar kuat, tetapi untuk tanaman dewasa di teras yang terkena hujan hampir setiap sore, lumut menjadi jebakan yang mempertahankan air terlalu lama. Di Malang, dengan curah hujan yang tinggi, saya tidak memakai lumut sama sekali untuk anggrek dewasa.

Pot yang saya pakai untuk sebagian besar tanaman adalah pot berlubang banyak, termasuk lubang di samping, supaya akar yang menyembul masih mendapat udara. Untuk Vanda saya bahkan tidak memakai pot: akarnya digantung bebas dan hanya disemprot. Kaca transparan saya hindari karena akar yang tumbuh menempel di kaca akan rusak saat dipindah, dan cahaya yang masuk membuat alga menghijau di dinding pot. Semua catatan di halaman ini berasal dari pot yang benar-benar saya pakai di teras, dengan jumlah tanaman yang gagal dan jumlah yang bertahan, bukan dari panduan umum yang menyalin satu sama lain.